Sahabatku
yang Kembali
(Oleh
Farida Ariani / X MIA 3 /07)
Ada seorang gadis,dia
bernama Rima.Rima adalah anak seorang pengusaha yang kaya,dia sedang duduk
dibangku SMA.Dia adalah seorang yang ramah,cantik,pintar,dan baik.Walaupun
orang tuanya kaya,namun dia mau bergaul dengan orang-orang biasa.Oleh karena
itu dia mempunyai banyak teman.Dia sangat disenangi teman-temannya .Tidak hanya
teman-temannya ,banyak guru yang juga perhatian dengan dia karena kepintarannya.Diantara
banyaknya teman,ada seorang teman yang sangat spesial,dia bernama Irma .Mereka
telah bersahabat sejak masih SD.Namun akhir-akhir ini mereka berubah,bahkan
mereka tidak lagi saling sapa.Mereka seperti tidak mengenal satu sama
lain.Sudah 2 hari terakhir Rima tidak
seperti biasa,dia sering melamun.Namun
hari ini dia sangat aneh.Dia terlihat sangat sedih dan saat perjalanan pulang,dia
hanya melamun didekat kaca jendela mobil.Sesampainya di rumah,dia langsung lari
ke kamar bahkan dia tidak menjawab pertanyaan ibunya
“Rima,kamu nanti les apa ?”Tanya
Ibunya,namun Rima tidak menjawab.Dia langsung lari ke kamarnya dan
menguncinya.Awalnya ibu Rima curiga dengan sikap Rima,namun ibunya berfikir
mungkin Rima terlalu lelah jadi dia ingin segera ke kamarnya.Didalam kamar Rima
langsung menuju sudut kamar.Gadis itu hanya bisa duduk terpaku disudut kamar.Bahkan
Rima tidak tersadar bahwa air matanya jatuh dipipinya.Air matanya tidak
berhenti, justru semakin deras bahkan dia sampai terisak isak.Dia membayangkan
kejadian akhir-akhir.Bahkan air matanya semakin deras ketika dia teringat
ucapan-ucapan yang dilontarkan sahabatnya di kelas tadi.
Kejadian yang sedang ada dipikiran Rima saat ini berawal 2 hari yang lalu ketika
jam istirahat.Saat itu Rima sedang ada di kantin,seperti biasa Rima hanya
membeli air mineral dan makanan ringan .Rima menghabiskan makanan dan minuman
yang ia beli sambil membaca novel.Saat
Rima sedang asyik membaca novel sambil mengunyah makanan ringan yang ada
dihadapannya,tiba-tiba Irma datang.
“Aku nyesel pernah sahabatan
sama kamu.”Ucap Irma.Sontak Rima langsung kaget
dan bingung.
“Maksud kamu apa Ir ?”Tanya
Rima kebingungan.
“Alah nggak usah pura-pura
nggak tau.Kamu jahat.Aku nyesel sahabatan sama kamu.”Jawab Irma,air mata yang
mau jatuh dipipi langsung Irma hapus.
“Tapi…..”Kata itu yang bisa Rima
keluarkan karena Irma langsung meninggalkannya.
Bel masuk berbunyi, Rima
langsung menuju kelas.Namun kakinya seperti tidak kuat untuk berjalan menuju
kelas karena dia sangat kaget dengan apa yang Irma katakan padanya.Saat di
kelas dia hanya melamun,pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan apa alasan Irma
mengatakan hal itu kepadanya,dan dia selalu terbayang-bayang ucapan yang tadi
Irma katakan.Suara guru yang ada di depan kelas menyadarkan lamunannya,Rima
sangat kaget.
“Rima,kenapa kamu
melamun?”Tanya Pak Rino.
“Maaf Pak,nggak papa kok
Pak.”Jawab Rima.
“Ya sudah,konsentrasi
pelajaran !”Perintah Pak Rino.
“Baik
Pak.”Jawab Rima sambil menunduk.
Pelajaran
dilanjutkan,namun Rima lagi-lagi melamunkan hal yang sama.Tiba-tiba ia dikejutkan
oleh suara gurunya lagi.Namun suara ini terdengar lebih jelas,ternyata Pak Rino
sudah ada di sampingnya.
“Rima,kenapa
kamu melamun lagi?”Tanya Pak Rino.Pak Rino heran karena tidak biasanya Rima
melamun.
“Tidak
kok Pak !”Jawab Rima.
Bel
pulang sekolah berbunyi,Pak Rino langsung meninggalkan Rima dan keluar dari
kelas,begitupun dengan Rima dia langsung menggendong tas dan lari meninggalkan
kelas.Teman-temannya sangat heran dengan perilaku Irma saat ini.
“Rima
kok aneh ya?Nggak seperti biasa,biasanyakan kalau dia mau keluar kelas nyapa
kita dulu.”Tanya teman yang duduk dibelakang Rima kepada teman lainnya.
“Iya,tadi
juga saat pelajaran Rima melamun.”Jawab salahsatu teman.
“Sudah-sudah
ayo kita pulang,kita tanyakan kepada Rima besok pagi.”Ujar teman yang
lain.Akhirnya mereka keluar kelas.
Rima
berlari menuju kelas Irma yang jaraknya lumayan jauh dari kelasnya.Ketika
sampai di depan kelas,Rima tidak melihat sahabatnya itu.Akhirnya dia pulang ke
rumah.Rima masih bingung dengan ucapan Irma di kantin tadi.Di rumah Rima mencoba
untuk menghubungi Irma.Dia coba menelefonnya namun tidak diangkat,kemudian
SMS,namun dia tidak membalas SMS tersebut.Rima semakin bingung kenapa Irma bisa
semarah itu.Keesokan harinya,Rima berangkat lebih awal.Dia langsung menuju ke
kelas Irma.Rima mencoba mencari dikelasnya namun dia tidak melihat ada
Irma.Kemudian dia tanya kepada teman yang sedang duduk dikursi depan kelas.
“Eh,Irma
sudah berangkat belum?”Tanya Rima kepada salah satu teman Irma.
“Kayaknya
dia belum berangkat.”Jawab teman itu.
“Oh,makasih
ya.Maaf mengganggu.”Ujar Rima.
“Ya
sama-sama.”Jawab teman itu.
Rima
meninggalkan teman itu dan menuju kelas karena bel masuk akan berbunyi 3 menit
lagi.Sesampainya dia langsung duduk dibangkunya,teman-teman menghampirinya.
“Rima
kamu kenapa?Kamu sakit?”Tanya salah satu teman.
“Aku
nggak papa kok.Aku juga nggak sakit.”Jawab Rima kepada temannya.
Teman-temannya
langsung duduk dibangku masing-masing karena guru yang mengajar sudah
datang.Rima mencoba melupakan masalah itu sejenak dan mengikuti pelajaran
dengan baik.Bel istirahat berbunyi,Rima langsung menuju ketempat yang biasa
Irma datangi,namun dia tidak menemukannya.Dia terus mencari,dia tidak
menemukannya sampai bel berbunyi.Akhirnya dia memutuskan untuk menemuinya nanti
sepulang sekolah.
Saat
pulang sekolah Rima menuju kelasnya Irma.Beruntung dia belum keluar dari
kelasnya.Rima langsung menghampirinya karena saat itu tinggal ada Irma.
“Kenapa
kamu kesini?”Tanya Irma.
“Irma
aku mau tanya maksud dari ucapanmu saat istirahat kemarin.”Jawab Rima.
“Sorry,aku harus pulang sekarang.Dan
jangan tanyakan hal itu lagi.”Jawab Irma singkat dan langsung meninggalkan
Rima.Rima terus mengejar Irma dan terus bertanya namun dia tidak
menjawab.Karena tidak berhasil akhirnya Rima pulang ke rumah.
Hari
berikutnya dia datang ke kelasnya Irma dan menemuinya saat pulang sekolah.
“Kenapa
kamu datang lagi ?Apa kamu nggak capek?”Tanya Irma.
“Nggak,aku
hanya tidak ingin persahabatan kita rusak.Hanya itu.”Jawab Rima.Matanya
berkaca-kaca.
“Bukannya
kamu yang ingin merusak persabatan kita?”Tanya Irma.
“Maksud
kamu apa?”Tanya Rima bingung.
“Kamukan
yang bilang sama Rika kalau kamu nggak mau sahabatan lagi sama aku.Bahkan kamu
malu punya teman seperti aku.”Jelas Irma.Rima sangat kaget mendengar ucapannya.
“Aku
nggak pernah bilang seperti itu ke Rika.Kamu salah paham.”Jawab Rima.Irma tidak
meresponnya.
“Terserah
kamu,yang penting aku nggak pernah mengatakan hal itu kepada Rika atau
siapapun.”Jelas Rima.
Rima langsung meninggalkan
Irma dan langsung pulang sedangkan Irma hanya
terdiam setelah mendengar penjelasan dari Rima.
**
Isakkan
Rima terhenti ketika dia mendengar suara ibunya.
“Rima
ada temanmu yang datang.Cepat keluar dan temui dia!”Perintah Ibu.
Rima
langsung menghapus air matanya dan berdiri.Dia langsung keluar kamar dan
menemui temannya.Ternyata teman yang datang adalah Irma.
“Irma…”Ucap
Rima.Dia sangat kaget dan tidak menyangka.
Rima yang sedang duduk
dikursi langsung berdiri,menarik tangan Rima,dan mengajaknya ke taman di depan
rumah Rima.Di taman mereka duduk dikursi.
“Rima,aku minta maaf.Kamu
benar ,kalau aku salah paham.Seharusnya aku tidak percaya ucapan Rika saat
itu.Ternyata Rika ingin menghancurkan persahabatan kita.Tadi waktu pulang
sekolah aku mendengar dia sedang bicara dengan temannya,dia bilang kalau dia
sudah berhasil menghancurkan persahabatan kita.Ucapan dia kemarin itu supaya
aku benci sama kamu dan persahabatan kita hancur.Dia iri sama kamu karena kamu
punya banyak teman dan banyak guru yang perhatian sama kamu.Jadi karena kamu sangat
dekat sama aku,dia ingin kedekatan kita itu hancur jadi kamu akan sedih.Rima
maafkan aku.Aku menyesal aku telah membencimu.Apakah kamu masih mau jadi
sahabatku?”Jelas Irma kepada Rima.Rima langsung menatap Irma dan memegang
pundaknya.
“Irma,kita
akan selalu menjadi sahabat.”Jawab Rima singkat.
Mereka
langsung tersenyum dan berpelukan.Akhirnya persahabatan mereka kembali utuh.
Pelukannya jangan lama-lama, nanti LGBT! O, ya, pembaca sekarang tidk senang digurui. Anda harus menghindari mengatakan bahwa Rima itu canti, pintar, baaik hati, dsb. tapi melalui perilakunya, tindakannya, ucapannya, tanggapan tokoh lain sehingga pembaca menyimpulkan sendiri bahwa Rima memang begitu.
BalasHapus